Fenomena Sebuah Bangsa Yang Bingung, Dari Para Kumpulan Pemimpin Bingung

Jakarta – Pimpinan Nasional Majelis Gong Pancasila menyikapi kebangsaan terkait dengan persoalan bangsa tak terlepas dari kehiruk pikukan dengan upaya disintegrasi bangsa.

Hasil Kongres Pimpinan Nasional Gong Pancasila sebenarnya dari keprihatinan dari sifat ambigu dari sebuah kepentingan elite, serta pimpinan nasional dari kebingungan untuk menciptakan keruhnya bangsa Indonesia oleh para pemain sinetron, drama, sutradara hingga ending korbannya adalah rakyat yang selalu diadu domba, kata Werdi Jein SH Pimpinan Nasional Majelis Gong Pancasila dalam wawancara terkait sifat manusia dalam berpolitik. (2/10/2017)

Kiranya dapat kita saksikan bersama pada saat sekarang ini manusia pada umumnya di dunia mempunyai beberapa kecenderungan sifat-sifat dan prilaku buruk yang sangat menjijikan, memalukan dan kurang menghargai diri sendiri sebagai makhluk yang paling mulia di hadapan Allah Swt Tuhan Yang Ma Esa.

Bahkan manusia cenderung lebih biadab dari binatang yang paling buas di alam semesta ini yaitu : manusia mengarah kepada kehidupan bebas, tak bermoral dan tak beretika serta rendah harga diri dan kehormatannya antara lain sebagai berikut:

Pertama, sabar sampai mati karena takut dan bodoh menghadapi penguasa yang dzolim dan Tak bermoral serta tak berperasaan

Kedua, tahan menghadapi pelecehan dan penghinaan yang menimpa dirinya, merangkak dan merunduk jika ditekan dan diinjak-injak / dijajah oleh bangsa asing dan sesamanya.

Ketiga, tidak mampu memanfaatkan sebuah kesalahan dan kegagalan guna memperbaiki diri dan keadaannya.

Keempat, gemar dan merasa bangga melanggar hukum Allah SWT Tuhan Yang Ma Esa Tuhan lebih senang menegakkan aturan buatan manusia yang bertentangan dengan hukum ( ketentuan Allah Swt Tuhan yang Maha Esa ).

Kelima, senang dan bangga berbuat kriminal baik terang-terangan maupun sembuyi-sembunyi.

Keenam, suka hidup pura-pura dan akting fantasi sok tahu padahal bodoh tak ber-Ilmu bahkan menyia nyiakan waktu dengan malakukan hal-hal yang tak bermanfaat.

Ketujuh, suka meniru / Plagiatisme dan hafalan belaka karena malas berfikir dan tak mau kreatif dalam menunjang aspek krmanusiaan sebagai mahluk sosial.

Kedelapan, tega mengorbankan kebahagiaan orang lain demi kebahagiaan diri sendiri bahkan rela mengorbankan anak, isteri dan orang tua serta umat dan kehidupan akhiratnya demi sepotong kue / indomie.

Sembilan, sok berkuasa, sok kuat, sok paling kaya padahal dirinya lemah dan miskin ilmu serta amal.

Sepuluh, berkeinginan bebas tak mau diatur dan memuja nafsu dan uang serta emas terbiasa mempersekutukan Allah SWT Tuhan Yang Ma Esa.

Sebelas, puas hanya sekedar minum alkohol, narkoba, berzina, berjudi bahkan banyak yang durhaka kepada orang tua serta menyekutukan Allah SWT Tuhan Yang Ma Esa

Dengan adanya sifat-sifat kepengecutan dan kebiadabannya manusia yang sok tahu dan sok pintar serta menganggap Partai Politik adalah satu-satunya jalan terbaik penyelesaian masalah dan demokratis, keadaan yang demikian itu akan menjadi kesempatan emas bagi para politikus untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan cara memerintahkan agen-agen rahasia mereka/antek-anteknya agar membisikan kepada gerombolan manusia tidak cerdas tersebut bahwa pelecehan, penghancuran, kekerasan, kekejaman dan pengkhianatan yang dilakukan seakan-akan adalah mereka:

Semata-mata demi kesejahteraan dan demi kemenangan bersama golongan. Demi kebersamaan, kekompakan, kesamaan hak, kemerdekaan kelompok untuk menunjukkan bahwa kelompok kita adalah yang paling benar, paling mampu, paling kuat dan paling baik di atas segala-galanya dan bermacam-macam alasan dalam merangkai kebohongan publik.

Padahal sesungguhnya apa yang dikerjakan para politkus tersebut adalah sebuah kesesatan yang benar-benar nyata serta tak berdasar pada kebenaran namun berdasar pada kepentingan pribadi dan kelompoknya masing masing.

Ada beberapa akibat yang ditimbulkan dari tindakan para Politikus busuk yang munafik serta fasik tersebut adalah manusia akan menjadi lebih buas dan biadab serta tak bermoral selanjutnya siap melawan orang-orang yang lurus yang membawa kebenaran dan menghalangi niat jahat para politikus

Dan Masyarakat yang tidak tahu menahu akan membiarkan politikus tersebut / partai berbuat jahat dan buruk asalkan mereka dapat memberikan kebahagian dan kesejahteraan berupa sepotong roti, indomie, uang, emas dan kedudukan dan lain – lain

Kemudian para politikus busuk tersebut tetap akan mempersenjatai diri mereka dengan tipu daya, akting kepura-puraan sok sosial, sok nasionalis, sok dermawan seolah-olah sebagai dewa penolong padahal dialah salah satu dan satu satunya pelaku sistem yang menjadi penyebab dari segala kejahatan yang paling kejam di alam ini dengan menjanjikan kebebasan, kesamaan hak, sama rasa, sama rata, kesenangan duniawi dan kemerdekaan padahal hal tersebut tidak akan pernah diwujudkan secara totalitas bahkan dapat dikatakan akan menjadi semboyan belaka sampai mati

Senjata akting kepura-puraan tersebut sebagai alat bertempur melawan dan menghancurkan segala bentuk kebenaran dan kebaikan yang menghalang-halangi cita-cita busuk sang politikus walaupun harus melawan Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa serta siap menghancurkan seluruh nilai-nilai luhur pancasila , norma-norma serta adat Istiadat leluhur yang baik dengan tetap menerapkan peradaban kejahiliyahan yang dimapan-mapankan selama ini.

Maka jangan heran kalau banyak artis dan pelawak serta penipu yang jadi politikus padahal tidak memiliki kemapuan untuk berpolitik

Dengan memperhatikan begitu jahatnya dan sangat mengerikan sekali bahaya yang diakibatkan dan ditimbulkan oleh faham tersebut antara lain manusia menjadi seperti gerombolan binatang buas yang kejam tak berperasaan yang haus akhan kekuasaan, harta, benda dan sebagian yang lainnya tertidur pulas tak bersemangat yang ada hanya mimpi-mimpi panjang yang tak terealisasikan

Keadaan tersebut di atas akankah kita biarkan berjalan dengan mulus dan kita dukung atau kita akan melawannya dan menyadarkan bahwa apa yang ia lakukan selama ini adalah sebuah kesesatan yang nyata.

Maka kami Majelis Gema Gong pancasila meyiapkan solusi nya yaitu system Tata Kebangsaan yang sesuai dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa dan dapat mengaplikasikan pancasila dalam kehidupan Berbangsa dan bernegara agar tercapai sebuah kehidupan kebangsaan yang adil dan makmur berdasarkan pancasila.

Salam Wardi Jien SH
Pimpinan Nasional Mejelis Gema Gong Pancasila, dikutip Hasil Kongres Kebangsaan Indonesia Tahun 2016 

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *