Kembali Kepada Pancasila untuk Hindari Disintegrasi Bangsa

Jakarta – Peringatan Sumpah Pemuda Ke-88 di Museum Kebangkitan Nasional dalam forum Dialog dan Seminar Nasional Kebangsaan Gema Gong Pancasila banyak dihadiri oleh kalangan budayawan, pembesar kerajaan seluruh nusantara, seniman, dan seluruh simpatisan Pancasila dari seluruh Indonesia.

Salah satu yang hadir adalah Ratu Tanah Rata Kokoda Hj. Dr. Rustuty Rumagesan, MBA. Selain sebagai salah satu pembesar dan bangsawan adat tanah Papua barat, maka wanita yang akrab disapa Bunda ini juga adalah Ketua Forum Silaturahmi Keraton Se-Nusantara atau disingkat FSKN wilayah Papua barat.

Saat ditemui selepas acara peringatan Sumpah Pemuda di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta, maka Bunda mengungkapkan keprihatinan akan keadaan anak-anak bangsa saat ini. Justru saat peringatan Sumpah Pemuda yang seharusnya menjadi sebuah momentum mempersatukan diri, namun bangsa ini malah semakin terjerembab ke dalam jurang perpecahan.

” Sebagai seorang wanita, dan seorang pemuka masyarakat adat, serta sebagai bagian dari bangsa Indonesia, maka saya menyatakan keprihatinan mendalam dengan keadaan yang terjadi belakangan ini di bumi Indonesia. Semua pihak seolah bertindak semaunya tanpa memikirkan akibat yang akan timbul kedepannya,” tutur Bunda.

Bunda coba menengahi, bahwa seluruh bangsa Indonesia dari sabang sampai merauke agar jangan mau diadu domba oleh siapapun. Seluruh elemen Agama, Adat, dan masyarakat umum harus menyadari bahwa Indonesia ini terdiri dari beragam suku dan agama. Indonesia itu sangat majemuk, sehingga jika tidak menjaga keutuhan maka bangsa Indonesia akan hancur secara moral terlebih dahulu untuk kemudian hancur sebagai sebuah bangsa.

” Tolong bangsa indonesia ini jangan mau diadu domba, apalagi lewat Agama. Orang yang mengadu domba manusia lewat Agama apalagi lewat Adat atau Suku, itu adalah sangat biadab dan tidak Pancasilais. Dan rakyat harus menyadari juga bahwa saat rakyat sudah kacau maka ada yang akan bertepuk tangan di seberang sana menyaksikan kekacauan itu,” tambah Bunda.

Keadaan moral bangsa ini sudah berada diujung kehancuran karena selalu saja ada para pengacau yang ingin melukai perjuangan bangsa Indonesia agar nantinya bangsa Indonesia terhipnotis dan akhirnya meragukan Pancasila. Itulah yang diinginkan para pengadu domba tersebut.

Perjuangan Bung Karno yang keliling Indonesia mempersatukan masyarakat adat nusantara yang majemuk dari segi kesukuan dan agama, lalu bagaimana Pak Harto menguatkan pengamalan Pancasila tersbeut bagi seluruh rakyat Indonesia adalah hal yang membuktikan betapa para pendahulu bangsa ini begitu ingin negara ini bersatu, bermoral, dan beradab.

Mengatasnamakan kitab suci, mengatasnamakan agama, dan terlebih lagi mengatasnamakan Tuhan untuk sebuah kekuasaan belaka merupakan tindakan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang tertanam dalam Pancasila.

” Saatnya semua pihak sadar diri, introspeksi, dan kembali kepada Pancasila beserta cita-cita luhur para pendiri bangsa ini. Seluruh elemen masyarakat dari ulama, pemuka adat, mahasiswa, pelajar, buruh, karyawan, Ibu rumah tangga, harus bersatu dan bergotong royong. Bangsa ini sangat majemuk, dan bangsa ini memiliki Pancasila sebagai falsafah hidup, sehingga mari semua kembali pada Pancasila,” himbau Bunda.

Bahaya disintegrasi bangsa yang mulai terlihat belakangan ini merupakan salah satu akibat besar yang ditimbulkan dari hilangnya jati diri bangsa Indonesia. Dan jati diri suatu bangsa adalah budaya dan adat yang ada di tengah masyarakat dari bangsa itu sendiri.

Saat ini banyak anak-anak bangsa Indonesia mulai mengadopsi adat maupun budaya bangsa lain. Padahal mereka lupa bahwa bangsa Indonesia lebih kaya dan lebih terhormat dari sisi adat dan budaya dibandingkan bangsa-bangsa lainnya yang ada di dunia. Dan kemajemukan atau kekayaan akan budaya dan adat istiadat bangsa Indonesia itu dipersatukan oleh Pancasila. Itulah yang harus diingat oleh seluruh rakyat Indonesia.

” fondasi suatu bangsa adalah adat istiadat dan budayanya. Tanpa dua hal itu, maka sebuah negara akan runtuh, bahkan sebuah bangsa akan punah. Itulah mengapa ada filosofi ekstrem dari para penghancur dunia bahwa untuk menghancurkan suatu bangsa maka hancurkanlah budayanya,” pungkas Bunda.

Bunda serta beberapa elemen pemuka adat dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-88 tahun 2016 di Museum Kebangkitan Nasional juga mengusulkan agar diaktifkannya kembali pendidikan-pendidikan atau penataran-penataran Pancasila dan P4 yang dulu pernah berjalan lancar di Indonesia.

Dengan adanya penataran maupun pendidikan Pancasila maka seluruh rakyat akan selalu tersadar dan ingat, bahwa bangsa Indonesia terlalu besar dan terlalu mulia untuk dibiarkan hancur ditangan para pengadu domba. Baik dari para pengadu domba yang berasal dari bangsa sendiri, terlebih lagi para pengadu domba dari luar bangsa Indonesia.

Sumber: https://www.kompasiana.com/michaelcdn/58177c1ed47e61201609c661/kembali-kepada-pancasila-untuk-hindari-disintegrasi-bangsa

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *