Refleksi Gerakan Masyarakat Gotong Royong Pancasila

Jakarta – Tanggal 17 Agustus setiap tahunnya menjadi bahan refleksi bagi setiap anak bangsa Indonesia, 71 tahun sudah Proklamasi dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta yang mengumumkan kemerdekaan bangsa Indonesia di mata dunia dengan dan atas nama Bangsa Indonesia.

Majelis Gerakan Masyarakat Gotong Royong Pancasila (GEMA GONG PANCASILA) di tanggal yang sama mengumandangkan refleksi yang berbeda dengan banyak institusi, bak lembaga negara dan perkantoran namun dengan konsep yang berbeda, merefleksi kemerdekaan RI dengan cara melakukan resepsi kemerdekaan bersama 64 ormas dan Yayasan di Indonesia.

Antara lain, ( Pemuda Pancasila, Forum Betawi Bersatu, Baladhika Karya, Yayasan Anisa Nurussalam, Yayasan Amanah Muslimin dan lan-lain).

Ditambah dengan hadirnya Raja/sultan/Kepala suku di Indonesia, antara lain Sultan Padjajaran dari Jawa Barat, Datu Luwu dari Sulawesi Selatan, Ratu Kokoda dari Papua Barat, Raja dari Kerajaan Lampung.

Mengusung tema 17-71 (satu tujuan kita – tujuan kita satu), Resepsi tersebut dilaksanakan di Tugu HKSN atau yang selama ini lebih dkenal dengan Tugu Senen, pada tanggal 17 Agustus 2016.

Resepsi yang dilaksanakan mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 24.00 dilakukan dengan berbagai kegiatan, mulai dengan refleksi kemerdekaan, lomba anak-anak hingga pagelaran seni dan budaya, yang dimeriahkan oleh Bambang Oeban, Imam Ma’arif, Cak Rokhim serta pagelaran drama Teater ANU Indonesia pimpinan Bapak Joko Wahyu P dengan tema “Pahlawan Tak Dikenal”.

Pimpinan Majelis GEMA GONG PANCASILA, Wardi_Jien, SH, menyebutkan secara gamblang tentang kesalahan persepsi masyarakat tentang makna Kemerdekaan yang selalu diperingati setiap tahunnya.

Peringatan 17 Agustus bukanlah peringatan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, karena pada 17 Agustus 1945, Negara Republik Indonesia belum ada.

Negara Indonesia baru ada pada tanggal 18 Agustus 1945, sehingga tanggal 17 Agustus itu adalah peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Lebih dari itu, Pimpinan Nasional MGGP, Wardi_Jien, SH menyerukan bahwa untuk :

(1) Setia dan Cinta pada PANCASILA (bukan Komunis, bukan Teroris, bukan ISIS)

(2) Siap Bersatu, Rukun, Bergotong Royong, demi mewujudkan Indonesia Merdeka, Berdaulat, Adil dan Makmur

(3) Bersama TNI – POLRI, mewujudkan Keamanan dan Ketertiban demi Keutuhan NKRI (NKRI harga mati)

(4) Siap berperang melawan segala bentuk penyalahgunaan Narkoba

(5) Siap melawan dan memberantas Korupsi.

Selain itupula, AKBP Jajang Hasan Basri, S.Ag, Msi
(Kabag. Binops Direktorat Binmas Polda Metro Jaya)

Dalam pengarahannya menyebutkan bahwa keberadaan POLRI bukan hanya sekedar pada tingkat penegakan hukum,

namun juga berada pada posisi pengawalan terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku, memberi contoh dan pembinaan moral masyarakat,

bergotong royong dalam segala perbedaan demi terwujudnya keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat dengan tetap berlandaskan Pancasila sesuai visi Kapolri yang baru Bapak Jenderal Polisi Drs. M. Tito Karnavian, MA, PhD

yaitu Terwujudnya POLRI yang profesional, modern, dan terpercaya guna mendukung terciptanya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berdasarkan gotong royong.

Acara yang berjalan dengan sukses tersebut, mendapat apreasi yang baik dari banyak pihak bukan hanya dari peserta, pengisi acara juga dari pihak aparat Kepolisian Metro Jaya. (Ratu Garuda)

Sumber: indoshinju.com

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *